Latest Post

Tampilkan postingan dengan label HMI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label HMI. Tampilkan semua postingan

HMI : ORGANISASI BESAR YANG LAMBAN DAN TERSANDERA OLEH ZAMAN

Written By Himpunan Mahasiswa Islam Tanjungpinang on Rabu, 22 Juni 2011 | 04.21

Sebagai organisasi Mahasiswa Islam terbesar HMI di usia yang ke-64 tahun telah mengukuhkan posisinya pada kondisi yang mapan, namun demikian mapannya usia HMI tentu akan melahirkan dua hal yang akan memberi warna dan saling bertolak belakang, disatu sisi HMI akan semakin kokoh secara institusional dan dinamis, namun disisi lain karena didasari nama besar dan proses perjalanan sejarahnya HMI hari ini cenderung menjadi lamban dan bergerak ditempat. Selain itu sikap establish yang lahir dari kebanggaan sejarah lampau kiprah HMI mengakibatkan HMI hari ini cenderung tampil dalam kesadaran palsu.

 Sejak HMI didirikan di Jokyakarta oleh lafran pane 5 Februari 1947 HMI telah mengambil sikap yang tegas dan mentahbiskan dirinya sebagai kelompok yang mendorong dua hal, tanpa bermaksud menyederhanakan makna dua hal itu antara lain komitmen untuk mendorong kepentingan keumatan dan komitmen kebangsaan. Dua komitmen ini yang kemudian membuka ruang yang dinamis bagi kiprah HMI, apalagi HMI sangat menjujung pluralisme, HMI tidak mempersoalkan aliran dalam Islam, HMI tidak terjebak pada tarik ulur pengelompokan ummat Islam yang cenderung mempertentangkan Majhab dan aliran. Akibatnya HMI menjadi dinamis dan lahan subur bagi tumbuhnya gagasan-gasan Islam yang mewakili kemoderenan zaman. Singkatnya dalam perjalanan usianya HMI telah memberi banyak kontribusi bagi dinamika keumatan dan kebangsaan.

Namun kemudian layaknya sebuah organisasi kader yang mengkayuh dari zaman ke zaman, HMI tidak lepas dari pasang surut. Bahkan akibat beban sejarah yang banyak mendorong kiprah HMI pada ranah politik, dampaknya hari ini HMI dan kader-kadernya sangat politikal oriented. Sikap kader HMI yang sangat politik oriented ini melahirkan tampilan organisasi yang pincang dan kian hari menjadi dijauhi oleh basis di Kampus-kampus. Apalagi saat ini organisasi Islam yang tumbuh dan berkembang bukan hanya HMI. Kondisi ini lebih diperparah lagi dengan tampilan organisasi yang tidak pernah berubah padahal zaman mau tidak mau memaksa setiap individu maupun organisasi untuk berubah. Ringkasnya kian lama HMI semakin kehilangan relevansinya, HMI sudah tidak kompetibel dengan zaman.

Kerasnya arus globalisasi yang melahirkan berbagai trend dan tuntutan zaman menjadikan HMI kian tertinggal dengan cara-cara berpikir lama dan hanya berpikir politik structural. Pada hal faktanya dalam dunia yang kian menjadi kapitalis poilitik harus dibarengi kesiapan financial yang cukup, sementara kader HMI tidak siap secara financial. Ribuan kader HMI terlanjur melirik politik pada satu sisi dan meninggalkan sisi professional.

Imbasnya secara menyeluruh HMI menjadi semacam sekedar gerbong penghasil para politisi yang tidak kreatif dan hanya berpasrah dan berharap menjadi politisi tanpa memikirkan bahwa politisi hari ini adalah politisi yang harus kuat secara financial. Pada hal sesungguhnya jika kita melihat makna filosofis pengkaderan di HMI, HMI adalah organisasi yang idealnya mengarahkan kadernya untuk berkiprah pada berbagai bidang dan profesi. Trend hari ini adalah ternd wirausaha yang mau tidak mau kalau HMI tidak berupaya melirik ini, HMI akan tertinggal. Sebab kalau pun harus jadi politisi kader HMI tidak bisa hanya mengandalkan modal sekadar menjadi organisatoris yang baik.

Kondisi ini sesungguhnya telah meresahkan banyak kalangan di HMI, bahkan akibat terjadi pergeseran paradigma ini cak Nur sempat melontarkan kekesalannya, bahwa ? Bubarkan saja HMI?. Menurut Azumardy Azra jika HMI tidak berani untuk menguliti dirinya dan melakukan Reaasesment total terhadap keberadaan dirinya, maka HMI akan sulit untuk bertahan.

HMI secara institusi bukannya tidak menyadari ini, namun kuatnya mind set politik yang telah menjadi semacam trend budaya dalam organisasi mengakibatkan tampilan HMI hari ini menjadi semacam macan ompong yang Cuma bisa mengaum tapi tidak berdaya untuk menggigit.

Prinsipnya HMI harus berubah, cara pandang politik di HMI harus digeser pada ranah politik intelektual, HMI tidak boleh masuk pada ranah politik praktis sebab HMI adalah organisasi kader bukan organisasi politik. Sudah saatnya orientasi kader-kader HMI diarahkan pada berbagai segi. HMI harus mampu beradabtasi dan menjadi kreatif ditengah perubahan yang kian cepat .

Dari semua gambaran di atas sesungguhnya jika HMI ingin tetap bertahan HMI harus berani melakukan Reassesment total terhadap dirinya. Setidaknya ada tiga hal yang harus dilakukan
1.      HMI harus merombak secara total pola pengkaderan yang ada saat ini, sebab kurikulum yang ada sudah tidak kompetibel dengan abad 21 dimana HMI terjebak hari ini
2.      HMI adalah organisasi mahasiswa, otomatis basisnya adalah kampus, HMI harus dikembalikan ke Kampus. Konsep Back to Campus bukan sekedar diwacanakan tapi harus diimplementasikan ke dalam kampus. HMI harus mampu menjadi organisasi yang tidak hanya membentuk kader-kadernya pada satu tipe (baca poiltik) tapi lebih terbuka sehingga mahasiswa mau melirik HMI. Karena tuntutan zaman saat ini mendorong setiap orang untuk lahir sebagai orang-orang yang professional. Kalau HMI tidak menawarkan kemandirian dan penguatan profesionalisme bagi mahasiswa di kampus, maka wajar kalau HMI tidak lagi menarik
3.      HMI harus melakukan modernisasi organisasi, modernisasi yang dimaksud mencakup system, manajemen dan gaya kepemimpinan. Dalam era moderen kepemimpinan, manajemen dan system dalam pengelolaan organisasi harus mampu menghadirkan ruang efektifitas dan efisiensi. Trend perkembangan teknologi informasi dan komunikasi harus diimplementasi dalam pengelolaan oragnisasi. HMI harus mulai berani bicara kesenjangan digital, bicara teknologi bahkan mungkin HMI harus berani melakukan digitalisasi didalam organisasinya

Kalau ini tidak dilakukan maka, HMI akan tampil sekedar menjadi organisasi yang tidak lagi memberi makna bagi bangsa dan ummat, malah justeru menjadi beban. Seperti tadi sudah saya katakan diawal bahwa HMI ibarat macan ompong hanya bisa mengaum tapi tidak bisa menggigit, ini sebuah otokritik bahwa kalau HMI ingin mengembalikan misi organisasi pada khitah HMI, maka HMI harus berani menerima ini sebagai cambuk. Kami menyadari bahwa keresahan ini bukanlah monopoli tunggal, tapi semua kader HMI memiliki keresahan yang sama, semoga apa yang kami sampaikan dalam tulisan ringkas ini bisa mewakili keresahan sebegian kader HMI yang masih berpikir bahwa HMI masih bisa berubah. 

REVITALISASI HMI SEBAGAI KADER UMAT DAN BANGSA

Written By Himpunan Mahasiswa Islam Tanjungpinang on Sabtu, 02 April 2011 | 06.20

5 Februari adalah diperingati sebagai hari kelahiran Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), kini sudah 64 tahun dari tahun 1947 silam. Setiap ulang tahun harus ada refleksi, harus ada evaluasi, sehingga akan diketahui semangat zaman yang selalu membaru seiring dengan dinamika masyarakat.
Di tengah dinamika masyarakat akan terlihat sebuah organisasi mahasiswa dan gerakan mahasiswa apakah berjalan sesuai dengan visi, misinya yang telah terpatri dalam anggaran dasar dan anggaran rumah tangga sebagai pendoman dan sebagai cermin dari derevasi program-program yang dilakuan dapatkah menyentuh subtansi atau hanya sekedar berjalan ala kadarnya tanpa adanya progres report.
Ulang tahun untuk mengukur sejauhmana kiprah dan sepakterjang organisasi dalam dinamika masyarakat, apakah yang dapat ditampilkan dengan pengembangan visi misi dan programnya. Jika HMI bisa mereposisi-merevitalisasi perannya dan selalu melakukan pembaharuan semangat maka revitalisasi visi, misi menjadi semangat yang terus membara dalam diri kader untuk meningkatkan peran dan pengembangan potensinya sebagai bagian dari pengembangan diri mahasiswa Indonesia, bila peran itu belum dilakukan oleh HMI berarti ada apa dengan HMI selama ini. Apa yang mereka kerjakan dan bagaimana tanggung jawabnya untuk menyediakan dan menyiapkan kader bangsa yang berkualitas baik secara akademik, insan pengabdi maupun insan spiritual.
Keislaman, keindonesiaan dan kebangsaan seharusnya menjadi tolok ukur apa yang telah dilakukan dalam rangka menyiapkan diri menjadi penyedia sumber daya manusia yang siap dengan kemandiriannya di tengah arus zaman yang makin material.
Gerakan intelektual yang dilakukan oleh HMI sejauhmana, siapa kader-kader bangsa yang berprestasi di pentas nasional menjadi mahasiswa yang akademik oriented dan mahasiswa yang haus akan kekuasaan sebagai kader politik dari partai politik yang setelah sebagai mahasiswa akan menerjunkan diri dalam dunia politk sebagai bagian dari anggota partai politik, apa sebagai bagian masyarakat yang menjadi insan pengabdi dengan sumber daya yang dimiliki berkiprah dalam bidang dunia kewirausahaan sebagai pengusaha yang handal dan jago dalam mengembangan ekonomi umat.
Gerakan pengkaderan yang dilakukan HMI dapat dilihat dari sejauhmana jumlah mahasiswa Indonesia yang terserap dan aktif sebagai aktivis mahasiswa dan berapa jumlahnya dari prosentase mahasiswa yang berkiprah dalam organisasi dengan jumlah mahasiswa yang hanya asik belajar dan studi di kampus tanpa tahu apa yang harus mereka perbuat untuk berpartisapsi sebagai organisasi mahasiswa.
Adalah factor historis yang mendorong lahirnya Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dalam lintasan sejarah keormasyannya, yaitu visi keislaman. Islam yang dipahami oleh kelompok mahasiswa yang tergabung dalam wadah HMI telah mengokohkan pemahaman terhadap Islam, sehingga Islam sebagai salah satu sumber wacana yang tidak pernah kering dari nilai-nilai kemanusiaan dan sumber berbagai idea pembaharuan yang telah dipancangkan sebagai visi kedepan gerakan mahasiswa yang mencoba menggagas keberagamaan masyarakat bangsa Indonesia. Namun distorsi zaman telah meluluhkan wacana ini bergeser ke wacana politik yang terlepas dari visi humanismenya nilai yang coba ditawarkan melalui nilai Islam yang sarat dengan moralitas politik dan etika humanitas.
HMI yang dulunya sangat komit terhadap sosialisasi nilai-nilai keislaman kini telah luntur dan lepas dari predikat yang harus mereka pertaruhkan demi mencapai karier pribadi yang hanya sesaat dan kepentingan temporer, namun regenerasi yang mereka transfer pengetahuannya dan nilai yang harus mereka dapatkan dari seniornya, malah sesuatu yang lain dari kemahiran dalam berdebat an sich.

Kader Umat

Dalam khitahnya HMI menggariskan ada tiga wacana yang dikembangkan, antara lain; wacana keislaman, wacana kemahasiswaan dan wacana keindonesiaan. Pertamawacana keislaman, bagaimana wacana keislaman dikembangkan sebagai semangat atau spirit bagi organisasi dalam menegakkan kebenaran Islam yang rahmatan lil’alamiin mampu diimplemantasikan dalam diri setiap kader HMI atau hanya sekedar lipstick dan pemanis mulut dalam bertutur kata tanpa menjadi laku yang konkrit dalam kehidupan social masyarakat. Ada sesuatu yang telah hilang dari wacana keislaman, yaitu antara pengembangan nalar dan dzikir dalam pertumbuhannya kurang seimbang pada hal kajian Nilai Dasar Perjuangan (NDP) sebagai nilai identitas kader telah dijelaskan bahwa kerja manusia adalah keterpaduan antara iman, ilmu dan amal secara totalitas dalam keseimbangan peran kemanusiaannya. Integritas seorang kader sama saja dengan integritas siapa saja berpangkal dari kesadarannya tentang apa makna hidup dan tujuan hidupnya.
Keduawacana kemahasiswaan, HMI yang basik masanya di perguruan tinggi, maka hubungan yang harmonis dengan kampus merupakan keharusan mutlak, agar HMI tidak ditinggal wadah dan sumber kadernya. Dalam konteks ini HMI harus mampu menangkap dan menganalisa akar masalah dari pendidikan tinggi, sehingga mampu memberikan masukan yang berarti bagi pendidikan di Indonesia yang lebih berkualitas. HMI mempunyai tugas berat dalam mengembangkan gerakan mahasiswa yang lebih konstruktif untuk menatap bangsa Indonesia kontemporer lebih canggih dan mempunyai berbagai keunggulan komulatif di tengah kemajemukan.
Ketigawacana keindonesiaan, sepak terjang HMI dalam wacana ini telah teruji dengan para politisi dan kadernya yang terserap dalam struktur birokrasi Negara, demikian hingga konteks ini sering menimbulkan berbagai kritik yang pedas terhadap kemandirian HMI.
Makna dalam konteks organisasi sangat dibutuhkan berbagai perangkat yang mendukung konsep kaderiasasi yang efektif dan multi fungsional dalam aplikasinya di masyarakat; oleh karena itu dibutuhkan konsep pengembangan organisasi yang lebih kondusif bagi penyemaian kader secara nasional dalam pengembangan organisasi perlu memenuhi kriteria sebagai berikut:
Pertama, pengembangan organisasi sangat terkait dengan perencanaan strategis yang membawa perubahan di dalam organisasi, menyangkut tujuan dan spesifikasi obyektif berdasarkan suatu diagnosa problematika yang melingkupi organisasi.
Kedua, bahwa pengembangan organisasi berimplikasi pada perubahan perilaku anggota, yang diarahkan pada pola kerja sama partisipatif, sehingga organisasi dapat mencapai efektifitas yang tinggi.
Ketiga, program pengembangan diarahkan pada pola kinerja hingga mana anggota organisasi berlomba mencapai prestasi terbaiknya (fastabiqul khairat), mampu berperan dalam dinamika zaman, termasuk memperbaiki eksternal bersama gerakan mahasiswa lainnya menjadi agen kontrol perubahan baik yang berkaitan dengan kekuasaan negara maupun realitas sosial lainnya.
Keempat, pengembangan organisasi harus merupakan suatu kumpulan nilai manusiawi, baik mengenai masyarakat, anggota organisasi, sehingga organisasi dapat membuka peluang bagi pengembangan potensi sumber daya manusia. Struktur organisasi dapat menjadi enerji bagi kaderisasi, karena kader yang terserap dalam struktur kepengurusan akan secara otomatis terkader dari sisi leadershipnya.
Kelima, pengembangan organisasi merupakan representasi dari pendekatan sub sistem yang menyangkut hubungan berbagai divisi, departemen, kelompok dan individu-individu yang saling bergantungan dalam sub-sistem organsisiasi dan di dalam organisasi secara menyeluruh.

Tantangan HMI

Tantangan HMI pertama, hilangnya supremasi sebagai satu-satunya organisasi mahasiswa yang dapat mengandalkan proses kaderisasi ala HMI telah dilakukan oleh banyak organisasi lain. Gagasan HMI harus melakukan metamorposes dalam wacana kontemporer dengan nuansa yang baru dan visi ke depan yang cerdas.
Kedua mengembalikan wacana intelektual sebagai basis nilai tambah HMI. Ketiga, harus ada sebagian anggota HMI yang bertekun-tekun mempertajam visi intelektualnya. Jangan seluruhnya terkonstrasi ke dunia politik. Gerakan intelektualisme mengatarkan pada ketercerahan manusia dalam menghadapi persoalan-persoalan kehidupannya dengan melakukan pengayaan dan pengembangan potensi.

Kualitas Kader

Awal berdirinya HMI merupakan sinergi antara kekuatan politik praktis sebagai lahan perjuangan dan kualitas intelektual sebagai lahan pengabdian. Kembali ke khitah harus lebih mengembangkan orientasi perkaderan yang lebih mengedepankan nilai-nilai profesionalitas keilmuan dan tetap terampil sebagai kekuatan moral.
Sebagai kekuatan moral praktis HMI harus mempertahankan dan menjaga independensi. Independensi bisa diwujudkan apabila HMI menjadi lembaga profesional dan tidak tergantung kekuatan politik maupun kekuatan ekonomi. Sehingga keperpihakannya pada nilai yang dibawa oleh masing-masing stakeholder. Bukan berpihak kepada orang atau lembaga, namun lebih pada nilai-nilai yang diperjuangkan.
Profesionalisme secara kelembagaan tidak berarti harus didukung oleh banyak anggota sebagai sumber insani pembangunan, namun berapun secara kuantitas bukan menjadi halangan mengembangkan dan mengoptimalkan potensi generasi muda. Kelompok kecil yang profesional jauh lebih efektif pengaruhnya dalam percaturan organisasi pada masa yang akan datang.
Oleh karena itu bagaimana format gerakan HMI di masa yang akan datang? Paling tidak HMI harus melakukan langkah-langkah revitalisasi HMI sebagai strategi pengembangan visi perjuangan yang tidak boleh meninggalkan subtansi visi yang selama ini. Visi yang harus dikembangkan lebih ditujukan kepada kualitas kader. Hal ini sejalan dengan HMI tampil sebagai gerakan kultural.
Posisi gerakan kultural juga sesuai dengan tugas utama HMI sebagai organisasi perkaderan yang tugas utamanya mencetak manusia berkualitas akademis yang bernafaskan Islam. Artinya seorang kader yang tidak hanya cerdas namun juga mempunyai komitmen moralitas yang tinggi sesuai dengan ajaran Islam. Nilai-nilai moralitas itulah yang sangat dibutuhkan di masa depan.
Krisis kebangsaan berpangkal dari tercerabutnya moralitas dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, sehingga menjamurnya aneka penyelewenangan birokrasi hingga pemanfaatan politik hanya untuk kepentingan kekuasaan belaka yang jauh dari nilai-nilai pemberdayaan dan berpegang pada etika profesional.
Sebagai kader umat dan kader bangsa HMI mampu memainkan peran transformatif masyarakat Indonesia, dengan semangat etis dan daya profetis Islam HMI mampu menyumbangkan yang terbaik bagi umat, sebagai anak umat Islam, mestinya HMI memperkaya khasanah pemikiran-pemikiran konseptual dan upaya-upaya operasional dalam upaya memperjuangkan syiar Islam secara substansial maupun universal di negeri Pancasila ini.
Pada tahapan ini HMI punya tanggung jawab besar untuk menerjemahkan ajaran Islam yang universal dan kosmopolitian menjadi kenyataan sejarah dalam pergaulan hidup masyarakat. Sehingga HMI mampu menjadi kader umat dan kader bangsa. Dirgahayu HMI.

Sejarah Singkat HMI

Written By Himpunan Mahasiswa Islam Tanjungpinang on Minggu, 27 Maret 2011 | 16.02


HMI tidak dapat dilepaskan dari Lafran Pane yang karena jabatannya sebagai ketua III senat STI (Sekolah Tinggi Islam yang sekarang Universitas Islam Indonesia), ia sekaligus menjadi Pengurus Pusat PMY (Persatuan Mahasiswa Yogyakarta) untuk wilayah STI. Oleh karena itu, ditubuh STI waktu itu ada satu seksi yang disebut sebagai “Seksi PMY” yang diketua oleh Lafran Pane. Pengalaman Lafran Pane sebagai salah satu fungsionaris organisasi ekstra Universitas itulah yang kemudia mendorongnya membentuk satu organisasi ekstra yang beranggotakan mahasiswa-mahasiswa Islam.


Pada tanggal 5 Februari 1947, bertempat disalah satu ruang kuliah STI di Jl. Setyodiningratan, Lafran Pane bersama 20 orang mahasiswa STI mengadakan pertemuan untuk mendirikan sebuah organisasi mahasiswa Islam yang diberi nama “Himpunan Mahasiswa Islam (HMI)”. Hasil pertemuan tersebut kemudia diajukan ke Rektor STI, KH. A. Kahar Muzakkir, dan mendapat sambutan yang sangat baik. Bahkan, konon KH. A. Kahar Muzakkir memberikan bantuan finansial setiap bulanya sebesar Rp. 25,- (dua puluh lima rupiah) untuk kelangsungan hidup organisasi tersebut. Pada perkembangannya, organisasi tersebut terus hidup dan berkembang luas yang tidak terbatas pada mahasiswa STI atau mahasiswa UII dikemudian hari, tetapi juga merambah ke berbagai perguruan tinggi di seluruh Indonesia, baik negeri maupun swasta. Sekembalinya pemerintah RI ke Jakarta, HMI ikut dipindahkan ke Jakarta yang diketuai oleh Lukman untuk beberapa bulan, kemudia diteruskan oleh A. Dahlan Ranuwihardjo.
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Himpunan Mahasiswa Islam - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger