Home » » STRATEGI IMPLEMENTASI MISI HMI DALAM KEHIDUPAN BERORGANISASI, BERBANGSA, DAN BERNEGARA

STRATEGI IMPLEMENTASI MISI HMI DALAM KEHIDUPAN BERORGANISASI, BERBANGSA, DAN BERNEGARA

Written By Himpunan Mahasiswa Islam Tanjungpinang on Minggu, 27 Maret 2011 | 15.15


LATAR BELAKANG
Perubahan sosial yang terus terjadi seiring dengan perkembangan peradaban umat dan bangsa Indonesia, tentu saja memiliki implikasi bagi tumbuh kembangnya HMI di dunia pergerakan pemuda dan mahasiswa. Terlebih lagi bagi HMI yang sudah mencapai titik jenuhnya dalam berorganisasi selama masa orde baru, HMI berada dalam comfort zone di lingkungan elite dan kekuasaan. Padahal peran pergerakan pemuda dan mahasiswa yang utama adalah untuk melakukan perubahan, pembaharuan dan pembangunan di dalam masyarakat. Dan HMI dalam hal ini telah kehilangan sentuhan tradisinya untuk melakukan hal tersebut karena kegiatan perkaderan organisasi telah kehilangan ruh kekritisan dan progressifitasnya, dan berubah menjadi kegiatan rutin belaka.
Oleh karena itu, kemampuan organisasi untuk beradaptasi dan membaca arus zaman harus menjadi ujung tombak metodologi gerakan agar dapat terus menjaga eksistensi sistem perkaderan dan pencapaian misinya. Bila pedoman-pedoman organisasi, nilai-nilai dasar perjuangan, anggaran dasar dan anggaran rumah tangga sekadar dimaknai sebagai dokumen tanpa makna dan tafsir sebagai ruh untuk mencapai tujuan besar organisasi, maka telah sampailah organisasi pergerakan tersebut kepada titik nadir ruh perjuangannya. Ironisnya gejala-gejala tersebut sedang terjadi di HMI.
Oleh karena itu, cerita soal kebesaran masa lalu dan sistem senioritas menjadi hukum tidak tertulis namun telah menjadi panduan baku bagi kader dan seolah menjadi dogma yang merasuki dan menghantui tiap kader, sehingga kreatifitas kader untuk melakukan perubahan, pembaharuan dan pembangunan terbelenggu oleh beban sejarah. Karena itu, apabila HMI ingin kembali ke jalurnya, maka HMI perlu melakukan penyegaran orientasi aktifitas organisasinya sebagai organisasi pergerakan.
Sehubungan dengan itu, makalah ini mencoba untuk menjelaskan tentang bagaimana strategi HMI dalam mengimplementasikan misinya dalam konteks berorganisasi, berbangsa dan bernegara.

TIGA LANDASAN NILAI PERGERAKAN HMI
HMI melandaskan diri pada sistem nilai dalam pergerakannya, yaitu landasan nilai yang sifatnya politis, landasan nilai yang sifatnya ideologis dan landasan nilai yang sifatnya sosiologis. Landasan nilai politis HMI sesuai dengan apa yang tercantum pada tujuan organisasinya, namun dalam ini landasan nilai politis tidak berarti kekuasaan, tetapi ini adalah politik HMI untuk menyumbangkan segala daya dan usaha aktifitas organisasinya untuk menciptakan peradaban yang lebih baik bagi Indonesia dan sesuai dengan nilai-nilai Islam.
Landasan nilai ideologis HMI sudah tentu adalah yang tercantum pada Nilai-nilai Dasar Perjuangan (NDP) yang merupakan usaha dari HMI dalam merangkum dan merumuskan nilai-nilai yang terkandung di dalam Al-Quran untuk dijadikan pedoman mereka untuk mewujudkan misi dan tujuan organisasi. Bila landasan nilai politis dan landasan nilai ideologis itu tercantum secara formal di dalam konstitusi HMI, maka landasan ketiga yaitu landasan nilai sosiologis, yang lahir dari situasi budaya dan aktifitas HMI dalam mewujudkan misinya. Kultur di dalam HMI ini membentuk nilai-nilai fundamental yang berfungsi membentuk karakter kader-kader HMI, dan juga menjadi solidarity value dari keberagaman yang ada di HMI. Nilai-nilai fundamental yang dimiliki oleh HMI tersebut adalah sebagai berikut[1] :
1.   Kebenaran
2.   Kebebasan intelektual
3.   Inklusifitas
4.   Pluralisme
5.   Idea of progress
6.   Academic excelent (rasional, objeltif, kritis, ilmiah, dan professional)
7.   Intregitas kader (mandiri, bertanggungjawab, jujur dan adil)
8.   Persaudaraan dan kemanusiaan
9.   Keberpihakan kepada mustadafin (pihak yang tertindas)
10.    Independen
Ketiga landasan perjuangan di atas (baca: politis, ideologis, dan sosiologis) harus diderivasikan menjadi strategi organisasi ketika menghadapi realitas di dalam masyarakat. Strategi tersebut harus berhubungan dengan tiga ranah aktifitas HMI yaitu ranah organisasi, ranah intelektual, dan ranah kebangsaan. Dan untuk itu dalam makalah  ini ditawarkan paradigma baru strategi implementasi misi HMI yang bergerak di ranah intelektual dan keumatan berupa gerakan pengilmuan Islam, diranah keorganisasian berupa penerapan manajemen strategis, dan di ranah kebangsaan berupa wacana nasionalisme progressif.

PENGILMUAN ISLAM
Banyak kalangan, bahkan orang Islam sendiri meragukan tentang kemungkinan teks Islam yang berasal dari abad ke-7 itu sanggup untuk menjadi ilmu modern. Padahal Islam memiliki keotentikan untuk mempunyai kapasitas sebagai agama maupun sebagai ilmu. Dengan kata lain sangat memungkinkan untuk menerapkan ajaran-ajaran sosial Islam yang terkandung dalam teks lama pada konteks sosial masa kini tanpa mengubah struktur Islam itu sendiri sebagai sebuah agama atau dengan kata lain memngkinkan untuk terjadinya proses pengilmuan Islam.
Pada dasarnya pengilmuan Islam merupakan proses penjabaran konsep-konsep normatif-subjektif Islam menjadi formulasi-formulasi empiris-objektif yang terbuka dan inklusif (dari teks menuju konteks). Metodenya bisa dikerjakan melalui peminjaman dan akomodasi ataupun adaptasi dan sintesis dengan khazanah lain untuk memahami kandungan normatif Islam (metode integralisasi). Selain daripada itu, pengilmuan Islam tidak hanya persoalan keilmuan semata, karena salah satu tujuan utamanya adalah kontekstualisasi atas teks-teks agama dengan keadaan sosial atau dengan kata lain kenyataan hidup adalah konteks bagi keber-agama-an (metode objektifikasi).
Salah satu metode menuju terwujudnya pengilmuan Islam di atas ialah melalui objektifikasi Islam yaitu ketika gagasan-gagasan normatif Islam ditampilkan sebagai nilai-nilai universal, bersifat publik, dan dijustifikasi secara rasional. Nilai-nilai tersebut layak diterima bukan karena ia berasal dari Islam tetapi yang terpenting adalah bahwa nilai-nilai itu mengandung kebaikan pada dirinya sendiri, sehingga sumber nilai-nilai itu menjadi tak penting; yang penting adalah kemampuan menjustifikasinya secara rasional, demi mempersuasi sebanyak mungkin orang untuk menerimanya.
Ini menunjukan nilai-nilai Islam secara substansial bisa tampil secara universal dan karena nilai-nilai Islam berhasil ditransformasikan untuk menjadi sumber pencerahan bagi pemecahan masalah bersama secara objektif. Dengan demikian nilai-nilai Islam menjadi sesuatu yang bisa diterima orang, baik muslim ataupun non-Muslim, karena kebaikan nilai-nilai itu sendiri, bukan karena nilai-nilai itu berasal dari Islami. Dengan cara ini, Islam menjadi rahmat untuk alam semesta.
Pandangan dunia (welstanchauung) HMI yang merujuk pada Nilai-Nilai Dasar Perjuangan (NDP), membuat corak ideologi gerakan HMI adalah lebih mementingkan subtansi daripada literalis dan NDP telah menunjukan bagaimana prinsip-prinsip kebenaran universal dijadikan sebagai poros sistem keyakinan kader. Kebenaran universal itu tak terbatas pada ruang dan waktu atau bisa juga disebut sebagai teoritical wisdom.
Dengan demikikan, melalui pengilmuan Islam, maka gerakan HMI akan lebih mendekati konteks dari pada teks, dengan begitu Islam dan HMI akan relevan kembali untuk memecahkan kembali problem-problem kemanusiaan melalui bahasa dan metode yang objektif, yang bisa diterima dan menarik partisipasi dari semua orang. Dengan begitu Islam selalu bergulat dengan relevansi keadaan kotemporer umat di mana Islam tidak hanya berperan sebagai pemberi legitimasi terhadap sistem sosial, melainkan juga harus mengontrol perilaku sistem tersebut.
Apabila pengilmuan Islam dapat menjadi metodologi HMI dalam mengimplementasikan misinya maka secara tidak langsung HMI telah menjadi agen dari misi profetik Islam itu sendiri dengan melakukan transformasi sosial di level umat, melalui kerja-kerja intelektual , yaitu mentransformasikan nilai-nilai Islam yang subjektif menjadi objektif untuk  mencitrakan Islam kepada khalayak yang telah diaktualisasikan ke dalam bahasa ilmu secara empiris.

Manajemen Strategis
Kejumudan aktifitas organisasi HMI, sedikit demi sedikit telah membuat HMI kehilangan orientasi dalam mengejar pencapaian misi organisasinya. Akibatnya HMI selalu terlambat untuk mengantisipasi perubahan zaman baik dalam persoalan day to day politics hingga masalah perumusan masa depan peradaban umat dan bangsa. Untuk itu, diperlukan penyegaran sistem organisasi yang dapat memberikan HMI sebuah early warning system sebagai respon kontemporer terhadap situasi dan kondisi internal maupun eksternal. Kemunduran HMI disebabkan karena HMI gagal untuk mengambil peran-peran serta posisi yang strategis untuk dapat memimpin perubahan yang terjadi di masyarakat. Setidaknya HMI selama ini hanya berfungsi sebagai pengikut dalam arus perubahan, belum mengendalikan perubahan tersebut.
Manajemen modern memberikan solusi bagi permasalahan organisasi seperti yang dihadapi oleh HMI, yaitu melalui penerapan manajemen strategis yang melibatkan perencanaan strategis organisasi sebagai mekanisme organisasi untuk menetapkan dasar pijakan, arah dan strategi organisasi menghadapi keadaan zaman yang penuh dengan kompetisi, penuh dengan ketidakpastian, dan penuh dengan resiko.
Sistem nilai HMI yang berpedoman pada nilai dasar perjuangan (ideologis), nilai-nilai fundamental (sosiologis), dan misi (politis) harus bisa diderivasi ke level implementasi dilapangan, dan ini membutuhkan fleksibelitas kerja manajemen yang mampu sigap dan tanggap dan tidak gagap menghadapi keadaan kontemporer yang selalu berubah, dengan begitu HMI selalu dapat mengambil posisi dan peran yang strategis dalam perubahan-perubahan yang terjadi di dalam masyarakat tersebut. Ini dikarenakan HMI telah memiliki blue print yang jelas mengenai apa yang akan dilakukan, dan langkah apa yang harus dilakukan bila hal yang direncananan tidak bisa di implementasikan dilapangan.
Logika dasar dari perencanaan strategis adalah, dalam lingkungan dunia yang berubah secara pesat dan tak menentu, suatu organisasi memerlukan kemampuan untuk melakukan perubahan rencana dan manajemen dengan tepat. Maka, kemampuan untuk senantiasa melakukan penangkapan lingkungan eksternal dari organisasi, serta upaya terus-menerus senantiasa melakukan penelaahan kemampuan dan kelemahan organisasi internal menjadi prasayarat bagi organisasi untuk tetap strategis. Dengan kata lain perencanaan startegik merupakan analisa sistematis dan perumusan sasaran ke depan, mengenai respon-respon dan pilihan-pilihan, serta pemilihan optimal dan penetapan instruksi-instruksi untuk mengimplementasikannya secara rasional dalam organisasi.
Dengan demikian perencanaan strategi berangkat dari misi dan visi, mandat dan nilai-nilai yang menjadi dasar suatu organisasi untuk berkembang menjadi visi organisasi di masa mendatang. Proses analisis yang mengaitkan antara misi dan visi, serta perkembangan lingkungan eksternal serta kekuatan dan kelemahan internal ini akan membawa organisasi menemukan arah menuju yang paling strategi paling efektif.
Manfaat manajemen startegik bagi organisasi sosial adalah sebagai berikut:
  1. Perannya sangat berarti dalam membantu organisasi untuk menetapkan isu strategis yang perlu, dan relevan untuk diperjuangkan. Sementara banyak organisasi sosial tidak mampu menetapkan isu-isu strategis sehingga perjalanan organisasi bersifat rutin ataupun reaktif.
  2. Perencanaan strategis bermanfaat untuk menyadarkan terhadap keseluruhan anggota ataupun stakeholder seluruh organisasi mengenai visi, misi, mandat, serta nilai-nilai yang dianut oleh organisasi. Hal ini penting untuk menghindari organisasi tanpa kejelasan visi dan misi, atau hanya sebagian kecil elit organisasi yang mengerti dan memahami visi dan misi organisasi, sementara sebagian besar anggota tidak memahami atau tidak terlibat penetapannya.
  3. Organisasi sosial yang memiliki perencanaan strategis tidak hanya akan mampu membantu organisasi itu tetap relevan dengan perubahan lingkungan sosial politik, namun bahkan mmpu mempengaruhi, mengarahkan, dan membentuk sistem sosial, politik, dan ekonomi yang sesuai dengan visi dan misi organisasi.
  4. Konsolidasi organisasi secara berkala, yang akan membawa pada suasana meningkatnya partisipasi keseluruhan anggota dalam proses pengambilan keputusan yang mendasar, serta menghindarkan terjadinya pross alienasi bagi elite organisasi terhadap masa anggotanya.


NASIONALISME PROGRESSIF
Sejarah perjalanan bangsa ini sudah membuktikan bahwa nasionalisme merupakan alat perjuangan paling efektif dalam mewujudkan kemerdekaan Indonesia. bukti dan fakta nyatanya adalah keberagaman yang hadir di bumi Indonesia ini dapat diikat oleh sebuah rasa solidaritas untuk menjadi satu kesatuan dalam sebuah bangsa yang mereka imajinasikan sebagai bangsa Indonesia. Rasa solidaritas yang terbangun atas kesamaan nasib menjadi korban penjajahan, menjadikan nasionalisme yang berkembang diawal kemerdekaan adalah nasionalisme yang bertumpu pada aspek politik dan aspek psikologis.
Pendekatan ini mengharapkan loyalitas penuh rakyat dalam satu-kesatuan territorial wilayah kepada negara tanpa pamrih. Implementasi pendekatan ini berkembang pesat pada masa orde baru, ketika penguasa menggunakan slogan nasionalisme sebagai alat politik untuk menundukan lawan-lawan politiknya, rakyat yang tidak setuju terhadap kebijakan pemerintah, dan landasan pembenaran bagi semua kebijkan negara. Barang siapa yang ada dalam posisi tadi, maka ia akan dicap sebagai anasionalis yang berarti vis a visdengan penguasa dan alat-alat negara seperti birokrasi dan TNI.
Ada dua hal penting yang terjadi akibat praktek tersebut. Pertama, arti nasionalisme menjadi sempit dan sekedar bersifat sloganistik karena tidak seimbangnya antara hak dan kewajiban dalam hubungan rakyat dan negara. Disatu sisi rakyat berkewajiban penuh untuk mentaati seluruh kebijakan dan peraturan yang dikeluarkan oleh negara dan wajib siap untuk mengorbankan jiwa raganya demi keselamatan negara, namun disisi lain negara gagal melaksanakan kewajibannya untuk memberikan kesejahteran bagi rakyatnya. Ini menunjukan nasionalisme yang hanya bertumpu pada pendekatan politik dan psikologis saja kontraproduktif dan berimplikasi negatif bagi tumbuh kembangnya rasa nasionalisme.
Kedua, nasionalisme di Indonesia mengalami involusi perannya bagi pembangunan peradaban Indonesia. bila diawal pembentukan nation state, nasionalisme pondasi bagi seluruh daya usaha membangun kerangka berbangsa dan bernegara. Namun dalam perjalanan berikutnya, peran nasionalisme terkikis dari mental pejabat negara, dampaknya pengelolaan negara tidak lagi menjadikan pencapain tujuan nasional sebagai arah pembangunan. Sebagai contoh timbulnya perselingkuhan antara penguasa dan penguasa, investor asing, membentuk jejaring KKN (Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme) yang menghisap keuntungan negara ini. Bila dahulu kita berjuang melawan penjajahan asing, maka saat ini kita harus berjuang melawan pengkhianatan dari dalam, ketika secara tidak langsung ada sebagian kecil kelompok yang memiliki kelebihan sumber daya menjajah sesama saudara sebangsanya, baik itu melalui eksploitasi ekonomi, politik, sosial, dan budaya.
Berdasarkan dua hal diatas maka sudah saatnya HMI memperjuangkan wacana nasionalisme progessif sebagai dasar dalam mengambil peran-peran kebangsaannya. Adapun yang dimaksud dengan nasionalisme progessif adalah nasionalisme yang berlandasakan pada pembukaan UUD 1945 serta penerapan nasionalisme dalam kehidupan berbangsa melalui pendekatan kesejahteraan dengan melindungi kepentingan nasional untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat Indonesia. Sehingga HMI dan bangsa Indonesia tetap memiliki pedoman yang jelas dalam membangun arah peradaban Indonesia dimasa mendatang, sekaligus mampu menetralisir pengaruh-pengaruh ideologi dan kepentingan asing di Indonesia.
Pembukaan UUD 1945 adalah norma nilai tertinggi dalam kehidupan kebangsaaan kita, sekaligus merupakan jati diri dan cita-cita peradaban Indonesia.  Maka dari itu, apapun daya dan usaha pengelolaan negara tidak boleh bertentangan apalagi mengkhianatinya, karena, inilah karakter nasional kita yang membedakan kita dengan bangsa lain dan yang menjadi alasan paling dasar kenapa beragam agama, suku, bahasa, serta kerajaan mau bersatu dan melahirkan bangsa ini lahir diatas muka bumi.
Salah satu akibat dari penjajahan adalah penindasan, eksploitasi yang memiskinkan bangsa ini, oleh karena itu kemerdekaan merupakan jembatan emas untuk meraih kesejahteraan bagi rakyat Indonesia. Wajar adanya apabila saat ini rakyat Indonesia kehilangan orientasi ideologis nasionalismenya karena memang kesejahteraan mereka tidak kunjung membaik, dengan kata lain kemerdekaan tidak memberikan peluang bagi mereka untuk meraih kesejahteraan yang didambakan atau dengan kata lain kemerdekaan belum memiliki arti secara ekonomis.
Nasionalisme Indonesia saat ini mau tidak mau dipertahankan oleh keajaiban rasa patriotik yang membuat rakyat merasa bangga merasa bangga untuk mengakui manjadi bagain dari sebuah bangsa dan negara yang bernama Indonesia dan tidak lebih dari itu. Fenomena ini tidak boleh berlanjut dan harus dihentkan, ditengah globalisasi yang membuat dunia ini flat dan borderlesssangat rentan rasa patriotik tersebut luluh, dan individu-individu dari warga negara akan melakukan hal-hal yang merugikan kepentingan nasional, demi tawaran kesejahteraan dari pihak lain.
Terlalu banyak hal untuk dituliskan, untuk menggambarkan kebobrokan pengelolaan negara di berbagai bidang yang secara sengaja dan sadar merugikan negara. dan tindakan ini berakibat langsung pada ketidakmampuan negara untuk memberikan kesejahteraan bagi rakyatnya, dan ini berujung pada menurunkan rasa nasionalisme dari tiap individu-individu warga negara. kesimpulannya, kesejahteraan bagi rakyat adalah jawaban bagi manifestasi pembangunan peradaban dan pengikat solidaritas rasa nasionalisme di masa mendatang.

Penutup
Sudah menjadi fitrah bagi HMI untuk terus melahirkan generasi manusia-manusia Indonesia yang memiliki kualitas dan kompetensi untuk memimpin bangsanya dari masa ke masa. Oleh karena itu HMI harus mampu selalu memberikan gagasan, ide, serta konsep untuk melakukan terus perubahan, pembaharuan dan pembangunan untuk menciptakan peradaban Indonesia yang lebih baik. Untuk itu, diperlukan strategi yang tepat serta kemampuan dalam menangkap semangat zaman sebagai modal utama HMI dalam mempertahankan posisi dan peran strategisnya pada kehidupan kebangsaan dan keumatan. Inilah tugas kita sebagai generasi yang sedang memangku amanah di setiap level organisasi HMI untuk berjuang memikirkan strategi guna mengimplementasi misi organisasi yang compatible dengan zamannya.

Billahittaufiq wal hidayah
Yakin Usaha Sampai
Bahagia HMI

Share this article :

0 komentar:

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Himpunan Mahasiswa Islam - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger